Oleh: masmarto | November 29, 2008

Lectori Salutem

Kumpulan Lectori Salutem
Pengantar Pemimpin Redaksi Lontar
Tanggal 19 Agustus 2006, sore itu sepulang dari sekolah saya menyempatkan diri melongok acara pelatihan jurnalistik bagi kalangan guru di Temanggung. Pelatihan yang diprakarsai oleh Ikatan Kadang Temanggungan (IKT) dan Dewan Pendidikan Kabupaten Temanggung itu bertujuan melatih sejumlah guru agar dapat menulis, bahkan bila mungkin, menerbitkan sebuah tabloid pendidikan.
Karena merasa tak diundang, saya santai saja. Apalagi waktu itu saya baru seminggu menerima tugas memangku sekolah saya, SMK Negeri 2 Temanggung. Saya harus mempersiapkan transisi “kekuasaan” di tempat pengabdian saya selama 20 tahun sebelumnya itu.
Namun, apa lacur, ketika saya sampai di SKB Maron, tempat pelatihan jurnalistik itu, oleh Pak Milono, Ketua Dewan Pendidikan, saya diseret begitu saja ke dalam ruang pelatihan. Saya langsung didaulat, sembari tangan saya diangkat oleh Pak Milono, “Inilah Pemimpin Redaksi tabloid kita nanti”.
Tentu saja saya terkejut, bercampur malu. Seumur-umur saya tidak memiliki pengalaman mengelola penerbitan, ini kok tiba-tiba “ketiban sampur”. Namun, seketika saya teringat, ini adalah bagian obsesi saya yang sudah lama terpendam. Sejak tulisan saya dimuat pertama kali di Koran Sore “Wawasan”, sampai saat itu, 19 Agustus 2006, belum banyak guru di Temanggung yang menulis di media massa. Saya ingin sekali suatu saat mengajak guru-guru di Temanggung untuk merintis pengalaman baru di bidang penulisan.
Diam-diam, sebagai tanggung jawab moral saya untuk menularkan pengalaman menulis itu, saya bertekad agar tabloid yang diinginkan oleh Pengurus IKT dan Dewan Pendidikan itu dapat diwujudkan.
Saya tak perlu menceritakan bagaimana susahnya melahirkan jabang bayi tabloid pendidikan satu-satunya di Temanggung itu. Saya kemudian hanya ingin menyimpan catatan “Salam kepada Pembaca” -yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebut Lectori Salutem- ini ke dalam blog saya agar terus aman dari risiko hilang.
Demikian saja pengantar saya. Selamat membaca, dan dalam Lectori Salutem saya sering mengatakan “Selamat memustaka!”.

Lectori edisi ke-1 Oktober 2006
Sebuah Nama
Shakespeare, hampir sepanjang hayatnya senantiasa bertanya apa arti sebuah nama? Lain bagi kalangan penganut agama, nama yang diberikan – misalnya kepada seorang anak – haruslah bagus, mengandung harapan, nama yang selalu didoakan. Mencari sebuah nama acapkali membuat repot seorang calon ayah.          Ada kalanya, seorang ayah memberi nama berdasarkan ‘tetenger’ kalamangsa. Anak yang lahir pagi hari, akan diberi nama ‘fajar’ atau ‘dini’. Jika hari itu kebetulan hari Minggu, dengan pasaran Wage, sebagai misal, maka diutak-atiklah nama Fajar Miwa, dengan segala kemungkinan variasinya.
Nama, ternyata juga terkait dengan jenis kelamin. Bila anak itu perempuan, orang tua  menamai Suprapti, Suparmi, Suparti dan begitu pula sebaliknya. Karena itu, agak janggal rasanya ketika kita menjumpai nama ‘Slamet Lestari’. Kalaupun perempuan, kata ‘Slamet’ itu agak mengganggu, kalaupun lelaki, nama ‘Lestari’ niscaya akan mengundang olok-olok.
Ya…apalah arti nama jika kita hanya bermaksud iseng. Lain perkara apabila nama itu kita harapkan membawa hoki, keberuntungan, kewibawaan, kepopuleran dan sebagainya. Kalau sudah demikian, pastilah menjadi rumit untuk menemukan nama yang pas.
Syahdan, kelahiran tabloid kita ini juga tak lepas dari polemik akibat kegairahan para pengelola dalam memilihkan nama. Ketika pertama kali nama ‘Suara Pendidikan’ muncul pada pertemuan tanggal 31 Agustus 2006, belum banyak ide untuk mengutak-atik usulan ini.
Begitu pun pada pertemuan berikutnya tanggal 4 September 2006. Nama ‘Suara Pendidikan’ masih dianggap layak dan cukup representatif untuk menyuarakan aspirasi kalangan pendidik kita. Lagi-lagi tidak ada tanggapan dari peserta pertemuan terbatas yang dihadiri enam orang itu.
Baru pada pertemuan ketiga, 15 September 2006, yang diikuti 15 orang dari 40 undangan, muncul sejumlah nama tandingan. Di antaranya ‘Cakrawala’, ‘Medias’, ‘Mediasi’, ‘Pawiyatan’, ‘Pena’, ‘Aksara’, ‘Rontal’ dan ‘ Lontar’. Pada akhir pertemuan ada dua nama yang mengerucut, yakni ‘Mediasi’ dan  ‘Cakrawala’ .
Hampir ada kesimpulan memilih nama ‘Mediasi’ ketika Minggu siang, 17 September 2006 terkirim pesan pendek (SMS) yang masih mempersoalkan nama. ‘Mediasi’, kata pesan itu, tetap kurang berdaya jual, kurang greget, kurang berwibawa, sambil mengusulkan ‘Lontar’ sebagai nama yang lebih baik.
Karena rapat berikutnya dijadwalkan tanggal 20 September, sebagai persiapan final pracetak, diadakanlah semacam polling via SMS. Karena saat itu baru beberapa orang yang dapat dihubungi lewat telepon seluler, kepada mereka itulah polling ditujukan.
Hasilnya? Dari sepuluh ‘responden’, dua orang abstain, delapan orang (80%) menjawab secara bervariasi. Dua orang memilih ‘Cakrawala’, dua  ‘Pawiyatan’ dan tiga orang masing-masing memilih ‘Lontar’, ‘Mediasi’ dan ‘Aksara’. Satu orang ……….
menjawab aneh -di luar pilihan yang disediakan- yaitu ‘Spektrum’ hanya dengan alasan ‘biar lebih ngetren’. Anehnya, arti istilah dalam bidang fisika ini cukup mewakili keberagaman pilihan yang diajukan ‘responden’.
Ibarat calon ayah, ia akhirnya harus memutuskan satu nama, boleh saja nama-nama yang diusulkan keponakan, sesepuh, bahkan ‘orang tua’ sekalipun, diabaikan. Maka ‘pihak yang berwenang’, meminjam terminologi pada masa yang baru lewat, mengembalikan semua keputusan berdasarkan pertimbangan moto, visi, misi dan tujuan penerbitan ini.
‘Lontar’ mengingatkan kita pada tradisi masyarakat Indonesia lama dan yang masih terpelihara dengan ketat di dalam puri-puri istana dan bangsawan di tanah seberang (Pulau Bali, Lombok, Makassar) hingga paruh kedua abad yang lalu, dipilih karena pertimbangan-pertimbangan di atas.
Tabloid ini bermoto ‘forum belajar’ yang dimaksudkan sebagai tempat belajar bagi semua warga pembelajar : guru (dan bekas guru) dan siswa. Dengan moto ini diharapkan tabloid ini dapat menampung keinginan rekan-rekan guru yang ingin memupuk kepercayaan diri dalam mengekspresikan gagasan serta melatih keterampilan menulis, sebelum terjun di rimba raya dunia kepenulisan.
Kata ‘lontar’ memungkinkan setiap calon penulis, penulis pemula maupun penulis senior dapat melontarkan gagasan itu kepada khalayak pembaca.
Di tengah iklim kebebasan pers dewasa ini, diharapkan setiap orang yang ingin menulis tidak merasa dibelenggu oleh ketidak-percaya-diri-an. Setiap orang bebas berekspresi, bebas dalam batas-batas tanggung jawab normatif : tidak merundung (melecehkan) personal tertentu, tidak memancing unsur tindak pidana. Dengan begitu, setiap orang berkesempatan mengembangkan potensi diri, yang -siapa tahu- lebih segar, kreatif dan cemerlang.
Sesuai dengan visi penerbitan ini, yakni terbentuknya masyarakat pembelajar, tabloid ini berkeinginan kuat untuk mendorong tumbuhnya iklim belajar di kalangan guru maupun peserta didik- dengan mentransformasikan semua sumber belajar di alam besar ke dalam alam kecil kita.
Masyarakat pembelajar adalah masyarakat yang memandang kebutuhan belajar sebagai prioritas tertinggi dalam hidupnya. Guru yang pembelajar adalah guru yang selalu memutakhirkan pengetahuan guna mematangkan kompetensi pedagogis, profesional, kepribadian dan sosialnya. Siswa pembelajar adalah anak-anak muda yang selalu mengembangkan minat dan bakatnya sehingga dapat melampaui semua `ajaran’ yang pernah disampaikan gurunya.
Guna mewujudkan visi itu, misi penerbitan ini adalah menumbuhkan dan membudayakan keberaksaraan, yakni kemampuan membaca dan menulis: membaca dan menulis apa saja. Membaca dan menulis di mana pun. Membaca dan menulis kapan saja. Pendeknya, membaca dan menulis harus menjadi budaya baru, sebagai pembayar ‘utang’ budaya yang hilang akibat lompatan budaya lisan ke budaya melihat. Lectori salutem! (Hendro Martono)

Lectori edisi ke-2 November 2006
LECTORI SALUTEM!
Pembaca yang budiman! Puji syukur kepada Sang Maha Menulis. Akhirnya kami berhasil juga meluncurkan tabloid yang telah lama kami persiapkan. Persiapan yang lama itu bukan karena kami sedang merancang sebuah terbitan yang canggih, lengkap, dan mendalam bahkan mungkin prestisius. Bukan!
Persiapan yang lama ini –terhitung sejak 31 Agustus hingga naik ke percetakan tanggal 14 Oktober 2006- disebabkan oleh ke-serba-tidak-tahu-an kami. Pada mulanya, kami ragu-ragu menerbitkan tabloid ini. Apakah kami bisa membuat tabloid jika menulis saja masih menjadi persoalan mendasar bagi kami? Mengapa?
Di antara kami, di antara para pimpinan, sekretaris dan redaktur pelaksana serta kontributor terdapat kesenjangan yang cukup mencolok. Beberapa personal telah berpengalaman menulis di media massa cetak. Beberapa personal lain telah berpengalaman menangani proses pencetakan. Namun bagi beberapa personal yang lain lagi, merasakan aura kepenulisan saja masih menjadi perkara baru. Belum lagi dalam masalah teknis penulisan, pengaturan tata letak.
Masalah belum selesai sampai di sini. Hal mendasar malah belum sempat dipikirkan. Yakni, siapakah yang akan menerbitkan tabloid ini? Siapakah yang akan mengelola penerbitan bulanan ini? Bagaimanakah kedudukan para personal nanti dalam konteks tertentu? Bagaimana pendanaan penerbitan ini?
Dalam kondisi demikian, menurut hemat kami, hanya komitmen, kerja keras dan kekompakan sajalah yang akan mengatasi keterbatasan-keterbatasan itu. Kenyataannya? Ternyata masih terdapat kendala yang tidak ringan. Membangun komitmen di antara sekumpulan guru yang tidak punya keterkaitan latar belakang yang sama, tidak mudah. Membangun etos kerja di antara sekumpulan guru yang tidak diikat secara formal dalam sebuah lembaga kerja, juga tidak mudah.
Maka tinggal-lah kini modal kekompakan yang diharapkan bisa mengatasi masalah itu. Kami merasa bahwa jika tidak segera memulai, kita tidak akan pernah memiliki wadah untuk bertukar infomasi, bertukar pengalaman, saling menimba pengetahuan atau hal-hal lain yang disebut sebagai proses belajar.
Dengan kesadaran seperti itu, kami percaya, tanpa dukungan para pembaca kami pasti akan kewalahan mengelola penerbitan ini. Karena itu kami mengajak sidang pembaca yang budiman untuk turut menghidupkan denyut pendidikan di Temanggung melalui media tabloid bulanan ini. Kami mengundang partisipasi pembaca untuk mengisi kolom-kolom yang tersedia, atau kolom-kolom yang menurut para pembaca perlu disediakan.

Lectori edisi ke-3 Desember 2006
Ada cerita ringan yang barangkali perlu diketahui pembaca. Yakni masalah distribusi tabloid edisi kedua (November) kemarin. Dengan tetap mencetak 1000 eksemplar sebagaimana edisi pertama, kali ini kami hampir kehilangan akal ketika harus mengalokasikan quota tabloid per kecamatan.
Jika semula kami hanya mengalokasikan pada sekolah-sekolah di bawah naungan Depdiknas, maka untuk memenuhi janji kami pada acara halal bihalal (16/11), seluruh madrasah di bawah binaan Departemen Agama pun kami alokasikan beberapa eksemplar tabloid.
Apa yang terjadi? Kalkulasi kami terhadap jumlah sekolah dan madrasah di Kabupaten Temanggung ternyata jauh di atas dugaan. Ada tiga kecamatan yang semula tidak mendapat bagian untuk edisi contoh ini.
Karena stok terbatas, akhirnya kami memutuskan untuk mengurangi jatah tiap kecamatan dan sekolah lain untuk menutup kekosongan jatah di tiga kecamatan tersebut. Ini pun masih dengan catatan banyak sekolah yang tidak kebagian jatah edisi promosi.
Apabila kemudian banyak pembaca tidak kebagian jatah, penyebabnya tak lain dan tak bukan karena memang kami hanya mencetak 1000 eksemplar, sementara tabloid kita teralokasi untuk 1147 eksemplar.
Begitulah pembaca, kami mohon maaf tidak dapat memenuhi jumlah permintaan untuk edisi contoh bulan November tersebut. Itu semata-mata soal salah hitung yang tak terduga sama sekali.
Itu cerita tentang distribusi yang agak kacau. Bagaimana dengan pendataan jumlah calon pelanggan? Pada saat mendistribusikan tabloid edisi November, kami sertakan formulir berlangganan untuk diisi Pembaca.
Dewan Pendidikan, selaku penyantun dan penanggung jawab penerbitan telah menyampaikan surat permohonan kepada UPT Dinas Pendidikan di kecamatan untuk membantu mendata calon pelanggan. Selang satu minggu kami akan mengambil formulir guna menyusun rencana produksi.
Lagi-lagi, kami kebat-kebit. Data yang terkumpul belum dapat terhimpun seluruhnya dari kecamatan-kecamatan. Namun karena edisi Desember ini kami mulai melanggankan tabloid kepada Pembaca, kami memberanikan diri untuk menambah oplah. Tidak lain agar Pembaca yang masih menghendaki LONTAR tidak kecewa kehabisan stok.
Pembaca, begitulah suasana dapur kami sebelum menyajikan edisi Desember ini. Selamat membaca, selamat Natal dan selamat Tahun Baru!

Lectori edisi ke-4 Januari 2007
Ketika “LONTAR” edisi bulan Desember sampai di tangan Anda, barangkali segera muncul beberapa pertanyaan di benak Anda. Mengapa wajah LONTAR berubah dalam dua edisi terakhir? Mengapa rubrikasi juga mengalami perubahan? Bahkan juga mengapa penataan halaman rubrik berubah?
Pembaca budiman, sebagaimana jabang bayi yang baru saja lahir, dan kini bayi itu berusia tiga bulan, kami masih terus berbenah diri. Tidak hanya penataan ke dalam yang kami lakukan. Kami pun tengah berupaya mencari format yang pas untuk melayani pembaca.
Tentang wajah misalnya. Semula, kami mengetengahkan ‘headline’ atau laporan utama di halaman muka dalam format berita dan ulasan. Namun, setelah menerima saran dan kritik dari beberapa pihak yang kompeten di bidang ini, kami menampilkan foto sebagai bahasa berita utama. Gambar telah mewakili sejuta kata. Begitu kira-kira filosofinya.
Tentang rubrik yang mengalami perubahan, seperti rubrik ‘Empis-Empis’ yang sekali muncul lalu menghilang, disebabkan oleh beberapa alasan. Semula kami bermaksud untuk menampilkan ciri khas masakan Temanggung ini sebagai ruang kritik. Namun ternyata materi naskah yang kami harapkan datang dari Pembaca belum mendapat respons positif. Suatu saat mungkin saja rubrik ini muncul lagi.
Begitu pula rubrik ‘Debat Guru’. Ruang yang kami maksudkan untuk membuka diskusi bagi semua aspek pendidikan ini ternyata cukup dilematis. Naskah yang berasal dari penulis di luar redaksi belum sebanyak yang kami harapkan. Nama rubrik itu sendiri menimbulkan perdebatan karena Redaksi tidak menyediakan topik yang akan diperdebatkan untuk edisi berikut.
Yang terakhir menyangkut penataan halaman rubrik. Mulai edisi keempat ini kami menempatkan rubrik “Wacana” secara berurutan, sehubungan dengan adanya “Klinik Guru”. Secara teknis, membaca artikel pada kolom “Wacana” berikut komentar pada kolom “Klinik” dalam satu “sapuan mata”, ternyata lebih nyaman ketimbang harus membolak-balik halaman 15 dan 16.
Pembaca yang budiman, kami ingin juga mengabarkan bahwa selain apresiasi dari pembaca yang ingin mengirim tulisan, ada pula yang menawarkan komitmen untuk membantu “LONTAR”.
Beberapa surat elektronik (e-mail), surat udara (a-mail) dan pesan pendek kami terima dari Candiroto, Bejen, Pringsurat, Bulu dan Selopampang. Dari Kandangan, kami malah menerima tawaran bantuan tenaga untuk memperkuat jajaran redaksi.
Pramono, guru SMP N 3 Kandangan, yang membawa contoh karikatur dalam rapat redaksi 1 Desember lalu, dengan gembira kami terima untuk bergabung. Karikaturnya dapat dilihat pada edisi Desember lalu..
Semua ini diharapkan dapat memperbaiki sajian kami kepada Pembaca. Demikian, salam hangat dari Redaksi. Selamat tahun baru. Selamat membangun paradigma baru. Selamat membuka harapan baru yang lebih optimistis.

Lectori edisi ke-5 Februari 2007
(Kosong, lupa di mana file-nya, hehehe! Ketahuan juga teledornya)

Lectori edisi ke-6 Maret 2007
(Sialan, file edisi ini ternyata juga tak terlacak)

Lectori edisi ke-7 April 2007
Salam hangat dari Redaksi buat pembaca Lontar budiman. Ada dua hal pokok yang perlu kami sampaikan. Pokok pertama, permintaan maaf  pada pembaca karena edisi Maret lalu kami terlambat hadir di hadapan pembaca. Tanpa sengaja, kami lupa, bulan Februari ternyata hanya berumur 28 hari.
Mengikuti kebiasaan, proses cetak tabloid kita membutuhkan waktu tiga hari. Dengan asumsi tanggal satu setiap bulan itu tabloid sudah harus siap diedarkan, selambat-lambatnya tanggal 28 atau 27 semua naskah sudah harus siap masuk percetakan.
Jadilah kemudian kami agak kalang-kabut ketika menyadari tanggal 28 Februari belum semua naskah siap dicetak. Itulah yang membuat kami akhirnya hanya bisa memohon maaf kepada pembaca.
Pokok kedua yang kami sampaikan berhubungan dengan penampilan baru kami pada edisi April ini. Apabila pembaca mengamati, terdapat perubahan pada ukuran kertas yang kami gunakan. Perubahan pada lebar halaman itu, tentu saja berpengaruh pula pada daya tampung naskah.
Meskipun penambahan lebar halaman itu sebenarnya juga berarti penambahan biaya cetak, percayalah, kami tidak akan membebankan tambahan itu kepada pembaca. Harapan kami, dengan perubahan itu akan semakin membuat pembaca nyaman menikmati sajian kami.
Sesuai dengan “musim”-nya, edisi kali ini memang menyoroti masalah ujian nasional. Para pembaca yang masih duduk di kelas-kelas terakhir, khususnya di SMP/MTs dan SMA/SMK/MA, pada waktu ini pasti sedang dalam kesiagaan tertinggi menghadapi ujian penentuan kelulusan itu. Redaksi hanya dapat mengiringi dengan doa, semoga semua lulus dengan memuaskan. Selamat menempuh ujian penentuan itu!

Lectori edisi ke-8 Mei 2007
Pembaca yang cendekia. Lazimnya para remaja menunggu kado pada ultah-nya, kado apakah yang layak kita berikan pada orang-orang yang kita sayangi? Mungkin buku harian, mungkin cincin berlian. Yang pasti sesuatu yang menjadi kesukaannya.
Namun, jika di “hari raya pendidikan” ini Tabloid Lontar memperoleh kado, bagi kami pastilah kado itu sangat istimewa. Kado apakah gerangan yang menjadikan kami merasa harus bersyukur?
Kado itu tak lain adalah ISSN. Nomor serial terbitan standar internasional dengan otoritas yang berpusat di Paris, Prancis, itu kami perlukan untuk melengkapi identitas terbitan “LONTAR”.
Di Indonesia, pemegang otoritas untuk mengeluarkan ISSN adalah Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII) yang berada di bawah kewenangan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Untuk dapat memperoleh ISSN, kami harus mengajukan contoh cetakan edisi terakhir (April), dengan melengkapi susunan redaksi serta mengisi Bibliografi. Kami pun harus lolos dalam penilaian menurut standar yang ditentukan oleh PDII-LIPI.
Jika pembaca mencermati halaman muka edisi kali ini, pada bagian kepala tabloid (header), di situ telah tercantum nomor seri penerbitan ISSN 1978-3582. Pada bagian kaki tabloid (footer), pembaca juga dapat melihat barcode yang khas. Itulah ciri khusus kode produksi atau cetakan.
Untuk semua itu, kami hanya dapat mengucapkan terima kasih kepada pembaca yang setia membaca, turut menyumbang tulisan, dan yang tak kalah penting : berlangganan. Atas partisipasi pembaca, mudah-mudahan Tabloid LONTAR dapat tumbuh terus mengiri perjalanan pembaca dalam memperluas cakrawala. Selamat membaca!

Lectori edisi ke-9 Juni 2007
Sidang Pembaca yang terhormat. Pada edisi ke-8 tahun 1 bulan Mei 2007, kami memaklumkan keberhasilan kami dalam mendapatkan International Standardization Serial Number (ISSN) yang dikeluarkan oleh Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Dalam maklumat tersebut dinyatakan bahwa dengan dicantumkannya ISSN 1978-3582 pada halaman muka Tabloid LONTAR akan membuka kesempatan para guru untuk mendapatkan penilaian angka kredit jabatan guru, khususnya untuk memenuhi unsur pengembangan profesi.
Kami ingin memberi klarifikasi, sesuai dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 025/O/1995 tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Guru, guru dapat mengajukan usulan penilaian angka kredit pengembangan profesi melalui tulisan ilmiah populer yang dimuat di media massa.
Untuk memenuhi syarat sebagai tulisan ilmiah, guru hendaknya memerhatikan kaidah keilmuan yang disebut metode ilmiah. Di samping itu, agar layak dalam penilaian, panjang tulisan ilmiah populer diusahakan memenuhi pagu halaman tabloid ini. Yakni sekitar 6000 karakter. Tema tulisan tentu saja pertama-tama yang berkaitan dengan tugas sehari-hari guru di dalam kelas. Boleh juga mengambil tema yang lebih luas, namun masih berada dalam ranah dunia pendidikan.
Apabila sidang pembaca mengirim naskah yang memenuhi syarat tersebut, dan kemudian dimuat di tabloid LONTAR, maka berarti artikel tersebut dapat diajukan untuk mendapatkan penetapan angka kredit.
Yang perlu digarisbawahi, penentuan lolos atau tidak lolos dalam penilaian angka kredit pengembangan profesi bukan pada Tabloid LONTAR. Yang berwenang menetapkan adalah Tim Penilai Pusat, yang sejak Januari 2004 memiliki kantor sekretariat di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Jawa Tengah.
Sekali lagi, keputusan lolos atau tidaknya usulan penilaian pengembangan profesi tidak berada pada Tabloid LONTAR. Kami hanya menyediakan media, wadah, untuk mengakomodasi potensi penulis di kalangan sidang pembaca. Selamat menulis! Selamat membaca!

Lectori edisi ke-10 Juli 2007
Selamat menikmati kelulusan bagi para siswa SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA/SMK yang lulus ujian tahun ini. Bagi yang gagal, ambillah hikmah di balik kegagalan itu. Pasti ada hikmah yang tersembunyi, yang meminta Anda untuk menemukannya.
Selamat datang para siswa yang lulus Sekolah Dasar dan yang lulus SMP. Selamat menikmati kegembiraan baru di SMP/MTs dan atau SMA/MA/SMK yang menjadi idaman Anda.
Sidang Pembaca yang budiman! Bulan Mei kita disibukkan banyak kegiatan. Jika umumnya para awak LONTAR disibukkan oleh kegiatan ujian sekolah, secara kebetulan awak percetakan yang menangani penerbitan LONTAR disibukkan kegiatan pilkades.
Lembaga demokrasi paling tua ini, setidaknya dilihat dari sisi historis ketika para anggota suku-suku di Indonesia memilih calon kepala suku, bagaimanapun telah menguras tenaga dan konsentrasi awak percetakan LONTAR. Akibatnya, LONTAR hadir di hadapan pembaca dalam keadaan sangat terlambat, yakni pada akhir pekan pertama bulan Juni.
Segenap pengelola LONTAR hanya dapat meminta kemurahan hati pembaca untuk memberi maaf, sembari kami selalu mengingat saran pembaca untuk hadir tepat waktu. Karena itu, jika pada edisi X Juli 2007 kali ini LONTAR hadir di bulan Juni, dapatlah itu dianggap sebagai penebus keterlambatan edisi Juni.
Edisi Juli ini memang kami maksudkan sebagai edisi khusus. Memenuhi rasa keingintahuan para lulusan SD dan SMP yang hendak melanjutkan sekolah, kami tampilkan profil singkat sekolah menengah di Temanggung, negeri maupun swasta. Memang tidaklah mungkin kami memuat profil semua sekolah di Kabupaten Temanggung, sebab ruangan sangat terbatas.
Di samping itu, kami sertakan pula suplemen alternatif bahan bacaan untuk mengisi kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS), di samping bahan lain yang dapat diperoleh dari media lain pula. Harapan kami, para siswa yang memasuki sekolah baru dapat dengan cepat beradaptasi sehingga tidak mengalami “hambatan” sosial. Termasuk di dalam suplemen, kami sertakan trik belajar secara efektif. Semoga semua itu bermanfaat.

Lectori edisi ke-11 Agustus 2007
Salam Merdeka!
Pembaca LONTAR yang setia, guna merintis tradisi tahunan menjelang perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI, LONTAR yang berada di bawah tanggung jawab Dewan Pendidikan Kabupaten Temanggung, bersama Ikatan Kadang Temanggungan mengagendakan sejumlah kegiatan.
Sekadar mengenang kembali, kegiatan pelatihan jurnalistik yang diadakan pada 18 Agustus 2006 telah melahirkan tekad para peserta pada waktu itu, untuk dapat menerbitkan sebuah media komunikasi dan informasi pendidikan.
Dengan harapan yang sama, sesuai dengan visi dan misi LONTAR, yakni menumbuhkan minat membaca dan menulis di kalangan masyarakat pendidikan, pada 18 Agustus 2007 ini akan diadakan pelatihan serupa.
Dan di luar dugaan kami, dari kuota 100 peserta yang akan diikutkan dalam kegiatan pelatihan, telah mendaftarkan diri dari kalangan guru sebanyak 185 orang. Kami sangat kewalahan untuk melayani peminat yang demikian membeludak.
Oleh karena itu, para pendaftar yang belum tertampung dalam kegiatan pada bulan Agustus, rencana kami, akan kami undang mengikuti pelatihan yang sama pada bulan Oktober 2007.
Kami berencana mengadakan syukuran pada ulang tahun pertama LONTAR dengan mengadakan pelatihan jurnalistik bagi pendaftar yang belum tertampung pada sesi pelatihan bulan Agustus. Dengan cara ini, kami berharap rekan-rekan guru yang berminat tidak kehilangan selera.
Di luar acara pelatihan jurnalistik itu, juga akan digelar berbagai lomba untuk siswa. Di antaranya, lomba mewarnai untuk kategori TK dan SD/MI, lomba membaca puisi untuk kategori SMP/MTs, SMA/SMK/MA, serta kategori mahasiswa. Demikian pula untuk lomba menulis cerita pendek untuk kategori SMP dan SLTA.
Di luar kegiatan ini, Redaksi ingin mengingatkan kembali berbagai lomba yang telah diinformasikan kepada pembaca sejak bulan Maret lalu. Sayembara naskah buku pengayaan dari Pusat Perbukuan, lomba kreativitas ilmiah guru dan siswa oleh LIPI, lomba keberhasilan guru dari Ditjen PMPTK, dan lain-lain.
Semua itu dapat dijadikan ajang mengekspresikan keberaksaraan kita, yakni kemampuan menuliskan gagasan ke dalam karya tulis yang menarik.
Selamat mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut, selamat menikmati kemerdekaan kita!

Lectori edisi ke-12 September 2007
Apa arti kehadiran LONTAR di tengah komunitas baca di Temanggung? Di Jawa Tengah? Orang boleh berdebat tentang arti kehadiran LONTAR. Namun ketika pada pekan pertama bulan lalu, salah seorang awak LONTAR diundang mengikuti workshop media komunitas Jawa Tengah di Hotel Quality Salatiga, mungkin kita tertarik untuk mendiskusikan.
Pembaca yang budiman, atas undangan Badan Koordinasi Informasi dan Komunikasi Provinsi Jawa Tengah, serta atas rekomendasi Bagian Humas Pemkab Temanggung, Satrio Yudho, sekretaris LONTAR, beruntung mendapat kesempatan yang langka itu.
Dikatakan langka, karena di Jawa Tengah baru ada lima tabloid pendidikan berskala lokal yang masih eksis. Di wilayah eks-Karesidenan Kedu, LONTAR menjadi satu-satunya media terbitan Dewan Pendidikan Kabupaten/Kota dewasa ini. Juga dapat dikatakan langka, karena forum semacam ini memang jarang digelar.
Meskipun dengan sepenuh kesadaran LONTAR masih mengalami kepincangan –antara lain masa terbit yang tidak selalu tepat pada tanggal gajian, serta para kru yang masih terus belajar menulis dan menata wajah- kehadiran LONTAR telah sedikit memberi arti pada saat sejumlah guru mengikuti sertifikasi guru melalui penilaian portofolio.
Beberapa guru yang pernah menulis artikel di tabloid ini telah menanyakan kelayakan tulisan mereka dalam penilaian portofolio. Dan LONTAR dengan senang menunjukkan bahwa berdasarkan panduan penilaian (rubrik portofolio), tulisan rekan-rekan guru dapat diajukan dalam penilaian unsur pengembangan profesi dalam uji sertifikasi itu.
Karena itu, apabila pada kesempatan pelatihan jurnalistik tanggal 18 Agustus lalu pengasuh LONTAR meminta kesediaan berlangganan secara perorangan, semata-mata itu untuk lebih mendorong partisipasi pembaca. Taraf penyebaran LONTAR yang masih amat terbatas –kebanyakan setiap sekolah hanya berlangganan satu eksemplar- menyebabkan kesulitan bagi penulis yang ingin mengoleksi artikel pribadinya.
Pembaca budiman, berkembang tidaknya tabloid ini sebagian besar sangat bergantung pada kesediaan dan kesetiaan pembaca untuk turut menghidupi dan menghidupkan LONTAR. Karena itu, kami mengajak pembaca untuk turut membesarkan LONTAR sehingga dapat memperbesar kontribusi pada upaya peningkatan kualitas pendidikan di Temanggung.

Lectori edisi ke-13 Oktober 2007
Tidak terasa, LONTAR telah hadir sebanyak tiga belas edisi. Dalam setahun perjalanan media komunikasi pendidikan ini, tentu banyak catatan yang perlu dibuat, baik untuk kepentingan pembaca maupun para pengelola LONTAR.
Bagi kami, sesuai dengan motto LONTAR sebagai forum belajar masyarakat pendidikan, upaya menggerakkan masyarakat sebagai warga pembelajar tetaplah menjadi misi terpenting.
Di dalam upaya membelajarkan masyarakat pendidikan itu, tidak hanya guru yang dituntut untuk terus belajar. Kepala sekolah, para peserta didik, maupun para pemangku kepentingan (stake holder) pendidikan pun didorong menjadi lokomotif perubahan.
Perubahan yang diharapkan itu adalah lahirnya kebijakan yang komperehensif dalam memacu peningkatan mutu pendidikan. Perspektif yang luas dalam memahami dan merumuskan permasalahan pendidikan akan menempatkan mereka sebagai ujung tombak perubahan itu.
Bukan hanya masalah infrastruktur (sarana dan prasarana pendidikan), suprastruktur pendidikan di daerah pun rasa-rasanya amat ditunggu. Mulai dari membangun komitmen, merumuskan visi dan misi hingga rencana strategis bidang pendidikan di daerah.
Suprastruktur politik pendidikan (Undang-undang tentang sistem pendidikan nasional, undang-undang tentang guru dan dosen, beserta perangkat turunannya) telah dicanangkan. Tinggal para pemangku kepentingan merumuskan kebijakan operasional menurut kewenangan masing-masing.
Secara internal, meskipun baru berumur satu tahun, kami telah melakukan pembenahan manajemen. Dimulai dari promosi Sekretaris Redaksi, Sdr. Darmadi menjadi Wakil Pemimpin Redaksi. Berikutnya, masuknya Sdr. Daliman sebagai manajer iklan yang akan menjadi tulang punggung dan nafas hidup LONTAR.
Itu semua untuk persiapan rotasi keseluruhan, sambil memberdayakan para anggota redaksi agar lebih intensif mengelola bidang garapannya. Harapan kami, sesuai dengan motto LONTAR, kami pun ingin menjadi warga pembelajar yang terus belajar mengembangkan diri.
Demikian, salam hangat buat pembaca budiman!

Lectori edisi ke-14 November 2007
Puasa satu bulan –bagi yang menjalani- telah kita selesaikan. Sebagaimana ulat berpuasa penuh untuk bermetamorfosis menjadi kupu-kupu, menjadi apakah kita setelah menjalani puasa juga? Perumpamaan seperti ini banyak kita alami pada aspek kehidupan yang lain.
Tahun lalu, enam puluh orang guru mengikuti “puasa” –untuk menyebut kegiatan pelatihan penulisan jurnalistik sebagai wadah penempaan diri. Beberapa di antara mereka turut aktif membidani kelahiran tabloid tercinta ini.
Bulan Agustus lalu, kegiatan serupa diikuti lebih dari seratus orang guru. Kita masih menunggu tindak lanjut hasil penggemblengan itu: adakah di antara peserta yang bakal mencuat ke permukaan di dunia kepenulisan?
Pembaca yang budiman, menyongsong ulang tahun pertama Tabloid LONTAR, kami ingin berbagi pengalaman kepada pembaca. Sebagaimana pembaca menikmati setiap sajian Lontar dengan berbagai ragam persepsi, kami juga turut merasakannya.
Ketika Lontar terbit sangat terlambat, kami memastikan pembaca menggerutu karena keterlambatan ini. Terus terang, kami pun merasakan. Usaha keras kami agar Lontar tidak terlambat mengunjungi pembaca, sering berbenturan dengan berbagai sebab.
Karena itu, selama satu tahun kami mengelola Lontar, banyak hal telah kami serap. Ibarat berpuasa satu tahun penuh, kami ingin lahir kembali dalam tata kelola yang lebih baik. Misalnya, kami lebih disiplin dengan jadwal perencanaan terbit.
Di samping itu, agar setiap personal tidak bergantung satu sama lain, kami mulai intensif membagi tugas, baik dalam peliputan, penggarapan naskah, maupun penyortiran. Kami pun mulai belajar membuat reportase, membagi tugas dalam melakukan wawancara dengan narasumber.
Kami ingin, suatu saat Tabloid Lontar dapat melayani pembaca secara lebih luas. Tidak terbatas pada materi bacaan saja, tetapi juga pada peningkatan kapasitas sumberdaya manusia. Kami sedang menjajagi suatu kegiatan safari pelatihan di semua kecamatan agar pembaca memperoleh kesempatan secara merata.
Sebagai forum belajar, tidak hanya kami yang mendorong pembaca untuk meningkatkan keberaksaraan, pembaca pun pasti berkontribusi besar bagi kami. Untuk itu kami selalu mengundang sidang pembaca untuk membuka wacana baru menyangkut perbaikan kinerja pendidikan di Temanggung.
Demikian, selamat membaca!

Lectori edisi ke-15 Desember 2007
Salam takzim buat pembaca budiman. Di tengah tudingan akan rendahnya kualitas guru di Temanggung, seperti kegagalan rekan-rekan di kancah Guru Berprestasi Tingkat Provinsi, maupun Forum Ilmiah Guru, kita mendengar kabar menyejukkan. Rekan kita, Saudara Parjuni, guru SMP Negeri 6 Temanggung di akhir bulan November lalu berhasil merebut Juara ke-3 Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan yang secara rutin diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Meskipun hanya Beliau seorang yang berhasil, rasanya kita patut berbangga. Dua tahun lalu rekan guru dari SMK Negeri 2 Temanggung juga berhasil menduduki tempat cukup terhormat, yang bahkan bukunya kini telah diterbitkan dan diedarkan secara nasional.
Selain hadiah uang Rp 10 juta, niscaya naskah yang memenangkan sayembara itu akan segera diterbitkan pula. Dari penerbitan buku itu, Saudara Parjuni akan memperoleh royalti satu persen. Bila pembelian buku oleh Pusat Perbukuan (untuk kemudian diedarkan secara cuma-cuma ke seluruh Indonesia) bernilai setengah miliar saja, silakan pembaca menghitung sendiri jumlah royalti yang bakal diterima Sdr Parjuni.
Sebagai apresiasi pada peringatan Hari Guru Nasional 2007, berita menggembirakan ini perlu dijadikan momentum kebangkitan bagi guru-guru di Temanggung. Jika saja setiap tahun Temanggung dapat mewakilkan tiga sampai sepuluh orang guru untuk maju ke babak final sayembara naskah buku ini, Temanggung mungkin akan menjadi salah satu daerah potensial yang turut berkontribusi pada upaya pencerdasan kehidupan bangsa.
Tergerak dengan gagasan ini, Tabloid LONTAR tengah merancang suatu kerjasama dengan berbagai pemangku kepentingan di bidang pendidikan dalam bentuk pelatihan penulisan buku, penulisan karya ilmiah, maupun bentuk penulisan karya tulis lain.
Dinas Pendidikan, Dewan Pendidikan, Komisi D di DPRD, PGRI, maupun lembaga lain yang tergerak untuk memberdayakan guru-guru Temanggung diharapkan turut memberi dukungan. Di depan mata, niat baik Pusat Perbukuan yang ingin membeli hak cipta naskah buku pelajaran senilai Rp 40 – 75 juta harus dianggap menarik. Begitu pula, prospek eko-kultural seandainya guru di Temanggung mampu menulis buku, menulis laporan penelitian, maupun karya lain. Semuanya memerlukan komitmen yang kuat dari berbagai pihak guna memajukan pendidikan di Temanggung, dengan ditandai meningkatnya kompetensi menulis di kalangan guru. Demikian, salam hangat dari Redaksi!

Lectori edisi ke-16 Januari 2008
Pembaca tabloid LONTAR yang berbahagia. Memasuki tahun baru 2008 tabloid LONTAR bertambah gemuk. Bukan yang lain-lain, melainkan bertambah gemuk karena masuknya sejumlah awak. Seperti yang telah diberitakan pada edisi Desember, tabloid LONTAR mengundang sidang pembaca untuk bergabung menjadi reporter.
Sebelum ini, telah bergabung lebih dahulu Asmaul Khusna, Kepala Sekolah Alternatif “Cendekia Mandiri”, Kemloko, Tembarak. Alumnus jurusan Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Yogyakarta ini telah menjumpai Anda melalui kolom “Liputan Utama” edisi Desember. Fotonya pun dapat dilihat pada kolom “Mimbar” halaman 12.
Ajakan bergabung menjadi reporter LONTAR ternyata mendapat respons lumayan. Sejumlah peminat dari kalangan pembaca tertarik mendaftar menjadi reporter. Yang pertama sekali seorang siswa. Fatimah, siswa SMA Negeri 1 Temanggung merasa tertarik karena kesempatan bergabung dengan LONTAR menjanjikan kesempatan untuk berkembang sebagai penulis yang andal.
Berikutnya, Anik Yuliati dari MTs Pare, Kranggan. Alumni magister pendidikan agama Islam ini merasa tertantang terjun ke dunia jurnalistik karena pengalaman yang pernah dimiliknya.
Hal yang sama datang dari Sdr. Khoiron. Alumni fakultas sastra Undip yang semasa kuliah pernah turut mengasuh majalah kampus ini merasa tertarik karena tantangan jurnalisme memanggil-manggilnya.
Untuk alasan yang kurang lebih sama, ketertarikan pada undangan kami ditanggapi oleh Eko Suseno (SMA Mipha Parakan), Eko Budi Hartono (SMP N 1 Selopampang), Sutopo Wahyu Diono (Pringsurat), Eko Danang Setyanto (SD N Parakan), M Besari (Karangwuni). Masih ada dua orang yang ’melamar’ menjadi reporter, Tri Wariningsih (Bansari), dan Sri Haryati (Kandangan), serta Mukhlisin.
Dengan gembira tabloid LONTAR menyambut dan memberi ucapan selamat datang kepada mereka itu, sambil meminta maaf atas ketiadaan jaminan kesejahteraan yang memadai.
Pembaca, kami hanya bisa menyatakan kepada para calon reporter itu, bahwa bekerja untuk LONTAR –meminjam motto pergerakan Muhammadiyah ’Hidup-hidupilah Muhammadiyah, dan jangan hidup dari Muhammadiyah’- lebih banyak dituntut sebagai relawan.
Meskipun kami memungut biaya langganan dari pembaca, kami belum menjadi lembaga usaha, sehingga jaminan kesejahteraan –kalaupun ada yang menghendaki- belum dapat kami berikan. Kami hanya berani menjanjikan kesempatan untuk berkembang menjadi penulis, yang kemungkinan menjadi kaya jauh lebih besar ketimbang sekadar menjadi awak LONTAR. Inilah yang kami sampaikan kepada para calon reporter itu.

Lectori edisi ke-17 Februari 2008
Para pemustaka LONTAR yang terhormat. Sehari menjelang pelaksanaan diklat PTK yang diadakan Forum Ilmiah Guru Temanggung, yakni 26 Desember 2007, kami menyelenggarakan pelatihan sehari tentang penulisan buku bacaan untuk Sekolah Dasar. Bukan maksud kami untuk latah dengan mendahului rekan-rekan FIG. Bukan pula kami bermaksud latah senyampang sedang berlangsung musim sertifikasi profesi guru.
Kami mengadakan pelatihan penulisan buku, berbekal pengalaman yang masih terbatas, karena kebetulan kami mendapat surat permintaan dari sebuah penerbit buku di Jakarta. Penerbit tersebut dalam tahun 2008 ini hendak menerbitkan sekitar 751 judul buku untuk bidang-bidang kajian keterampilan (360 judul), pengetahuan umum (181), pengetahuan alam (36), pengetahuan matematika dan berhitung (18), pengetahuan agama dan budi pekerti (24), pengetahuan teknologi dan informasi (12), bahasa dan sastra (19), referensi (77), serta panduan olimpiade (12) dan UKS (12 judul).
Kami telah mengirim surat undangan melalui Kepala UPTD P&K Kecamatan. Maksud kami tentu saja agar informasi yang sangat penting ini dapat diakses oleh rekan guru maupun tenaga kependidikan untuk mencoba kemampuan menulis naskah buku. Agak disayangkan, dari 20 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dapat mengirim peserta hanya 4 kecamatan, yakni Kledung, Pringsurat, Tembarak, dan Selopampang.
Menilik prospek yang dapat diperhitungkan apabila seorang guru dapat menulis buku, dan kemudian layak diterbitkan, dan kemudian lulus penilaian dari Badan Standar Nasional Pendidikan, kami sangat berharap lebih banyak lagi peserta yang datang. Dikaitkan dengan rencana kegiatan penyusunan buku teks pelajaran yang dialokasikan dalam APBD Temanggung 2008, bila informasi ini benar, kesempatan semacam ini secara optimis menumbuhkan harapan akan terbentuknya skema perubahan yang luar biasa.
Misalnya, dari sekitar 5000 guru terdapat 20 persen narasumber yang mampu menulis buku, baik sebagai dampak pelatihan maupun bakat yang berkembang secara otodidak, kita boleh berharap Temanggung akan menjadi sentra para penulis buku. Jika diasumsikan setiap guru dapat memproduksi dua judul per tahun, yang dicetak dengan nilai nominal 100 juta rupiah, dapat dihitung berapa ‘devisa’ hasil kerja intelektual yang akan turut memengaruhi aktivitas ekonomi di Temanggung.
Secara kultural, mungkin dengan agak bombas, dapat diharapkan kelak Temanggung akan dikenal sebagai ‘pusat pencerdasan’; ‘pusat peradaban’; ‘pusat keberaksaraan’. Dikaitkan dengan diktum pasal 48 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, akan tiba masanya kita memikul tugas kultural pula: membudayakan kegemaran membaca. Dan itu dimulai dari bahan bacaan yang harus disediakan secara layak, menurut Standar Nasional Perpustakaan maupun Standar Nasional Pendidikan.

Lectori edisi ke-18 Maret 2008
Selamat bertemu kembali para pemustaka LONTAR. Pertengahan bulan lalu, 16 Februari 2008, Temanggung mendapat kunjungan resmi dari Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo.
Salah satu putra terbaik ini meresmikan –berturut-turut- SMK Negeri 1 Temanggung, SMP Negeri 2 Temanggung, dan SMA Negeri 1 Temanggung sebagai sekolah bertaraf internasional (SBI).
Acara kunjungan itu juga dilengkapi dengan peresmian Unit Sekolah Baru SMK (USB-SMK) di Jumo dan Tembarak, serta Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di kediaman orangtua beliau.
Dengan sejarah panjang yang dimilikinya, ketiga sekolah bertaraf internasional itu diharapkan dapat mencitrakan diri sebagai sekolah unggul yang mampu bersaing pada tataran internasional sehingga menjadi barometer kualitas pendidikan di Temanggung.
***
Minggu, pekan lalu, beberapa awak LONTAR diundang untuk bertemu dengan eksponen Ikatan Kadang Temanggungan, Dewan Pendidikan Temanggung, dan Dewan Kesenian Temanggung.  Dari jajaran IKT hadir antara lain Ketua Umum Grahito Usodo dan Ketua I Frahma Alamiarso. Dewan Pendidikan yang diwakili ketuanya, H Milono, serta beberapa seniman Temanggung dari DKT.
Tidak ada agenda politik pilkada 2008. Seperti ditegaskan oleh Ketua Umum IKT, melanjutkan ‘tradisi’ yang mulai dibangun sejak 2 tahun terakhir, IKT yang kali ini didukung oleh FILTRA (Forum Silaturahmi Temanggung Utara) yang dikomandani Pak Nurdin, berencana mengadakan acara Kadang Peduli Temanggung 2008. Kegiatan ini merupakan rangkaian perayaan HUT RI ke-63 pada Agustus mendatang.
Beberapa agenda yang tengah dirumuskan antara lain bantuan peralatan berupa komputer, dan pendirian perpustakaan di dua tempat yang masih akan diputuskan pada pertemuan mendatang. Selain itu, kegiatan seni dalam bentuk pentas maupun lomba, juga tengah direncanakan. Pelatihan dasar kepemimpinan di kalangan pengurus OSIS juga mencuat dalam pertemuan yang penuh keakraban itu.
Tema kegiatan masih sama seperti tahun lalu, yakni pemberdayaan masyarakat. Masyarakat, di dalam potensi dirinya yang sering tidak diketahui oleh para pemimpin yang arif dan bijaksana sekalipun, memiliki kesanggupan untuk bergerak mendinamisasikan diri. Dengan begitu, tema pemberdayaan masyarakat sejatinya hanya sekadar memantik api kecil. Nyala api harus dikobarkan dan dibesarkan oleh masyarakat sendiri.
Kita (Anda dan Kami) kadang-kadang mungkin merasa harus menjadi sinterklas yang mesti memberi dan membagikan. Namun, sering perasaan itu terlalu ’ke-ge-de-an’ menghadapi dinamika masyarakat yang ternyata memiliki kecerdasan, vitalitas, dan survivalitas untuk membangun peradaban yang mereka cita-citakan.
Yang perlu disadari, titik-titik ’api’ yang memerlukan ’batu pemantik’ tersebut ternyata ada di sepanjang perbatasan daerah Temanggung. Daerah yang boleh jadi jarang mendapat sentuhan dari pusat pemerintahan di kota. Pada titik-titik itulah kiprah IKT, DPT, DKT akan dilaksanakan. Ini semua masih dalam perencanaan, yang dalam waktu dekat akan segera dirumuskan detail kegiatannya. Demikian, salam hangat dari kami!

Lectori edisi ke-19 April 2008
Pemustaka Lontar yang mulia. Pada edisi sebelumnya telah disampaikan beberapa informasi penting tentang berbagai lomba penulisan, baik fiksi maupun nonfiksi. Kali ini pun LONTAR ingin menyampaikan informasi baru. Yang pertama, sayembara menulis novel yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta dengan tenggat waktu 31 Agustus 2008.
Lalu, ada lomba cerita konyol remaja dari penerbit Gramedia Pustaka Utama dengan batas waktu pengiriman 30 Juni 2008. Bagi remaja maupun peminat masalah remaja, even ini bisa digunakan untuk menjajal kecanggihan dalam menggali cerita lucu, dan segar.
Berikutnya, mendahului pengumuman dari Forum Ilmiah Guru Kabupaten Temanggung, pada bulan Agustus nanti juga akan diselenggarakan forum tingkat kabupaten. Forum ini akan menyiapkan calon peserta forum tingkat Jawa Tengah, meliputi guru-guru dari jenjang pendidikan TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA, dan SMK.
Dengan hadiah yang disediakan buat juara pertama senilai Rp 5 juta di tingkat provinsi, ajang ini mestinya menarik kita untuk mencobanya, dengan lebih dulu melakukan penelitian tindakan kelas. Tidak ada keharusan melakukan PTK memang, namun panitia di tingkat provinsi sudah mengisyaratkan bahwa laporan PTK akan lebih dipertimbangkan ketimbang makalah gagasan.
Dengan semakin maraknya proses sertifikasi guru melalui penilaian portofolio, kegiatan-kegiatan seminar dan pelatihan lain memang menunjukkan tren meningkat. Namun, bila yang dikejar hanya sertifikat bukti keikutsertaan dalam pertemuan semacam itu, akan terasa kurang manfaatnya.
Akan lebih berguna apabila setiap guru mengimplementasikan pengetahuan-pengetahuan yang didapat dalam seminar dan pelatihan itu dalam kegiatan penelitian. Bukan hanya nilai portofolio, lebih penting dari itu, perbaikan kualitas pembelajaran yang dicirikan dengan keberhasilan siswa dalam menguasai kompetensi harus diprioritaskan. Ini adalah esensi penelitian tindakan, di mana terdapat tindakan nyata dari guru untuk selalu memperbaiki kualitas diri, kualitas pembelajaran, dan kualitas hasil belajar.
Di samping kegiatan-kegiatan tersebut, dalam bulan-bulan ke depan niscaya masih banyak even yang bakal menarik Taruhlah, misalnya bagi guru bahasa Indonesia SMA/MA/SMK. Akan ada acara lomba tahunan yaitu Lomba Menulis Cerita Pendek, dan Lomba Mengulas Karya Sastra.
Bagi guru yang ingin mengikuti jejak rekan kita, Sdr Parjuni dari SMP 6 yang memenangi Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan, sebentar lagi akan beredar info dari Pusat Perbukuan Depdiknas.
Dari Direktorat Jenderal PMPTK, tradisi Lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran, sebagaimana dua atau tiga kali babak final yang pernah diikuti oleh Sdr FA Suprapto, juga dari SMP Negeri 6 Temanggung, sebentar lagi juga akan memanggil kita.
Dari semua kegiatan yang diprogramkan oleh Depdiknas itu, pertanyaan kecil patut kita lemparkan: dapatkah kita sekali-kali tertarik untuk mencobanya, sekalipun kita merasa belum mampu berbuat banyak? Dalam banyak contoh kasus, percobaan pertama dalam mengikuti lomba selalu menjadi pengalaman yang mengesankan. Itu adalah langkah awal menembus belantara kehebatan guru di kancah nasional. Rasanya kita sangat merindukan guru Temanggung berjaya di Jakarta.

Lectori edisi ke-20 Mei 2008
Pembaca setia tabloid Lontar! Malu rasanya tiap-tiap terbit berapologi soal keterlambatan kami dalam menyajikan Lontar. Namun bagaimana lagi. Dari semua awak Lontar, sejak awal Maret hingga akhir April, tak satu pun yang tidak menyatakan ‘sibuk’, ‘repot’, lagi banyak tugas. Yang lain melaporkan ‘sedang berada di luar kota’.
Untuk ukuran sebuah kinerja yang profesional, hal-hal semacam itu memang tidak selayaknya kami sampaikan. Namun, ternyata kami masih seperti pada waktu mau lahir. Kami, para awak Lontar generasi pertama, mula-mula berasal dari habitat yang kurang lebih sama: para guru (GTT maupun PNS) yang terikat dengan berbagai kesibukan.
Pada saat mau terbit pertama, kami pernah mencanangkan: Lontar minimal akan hidup sekurang-kurangnya 20 tahun. Ini sebetulnya sekadar untuk menjawab olok-olok: jangan sampai Lontar sekali terbit, terbit sekali. Di dalam rentang perjalanan, sering muncul saran dari pembaca: Lontar sebaiknya terbit awal bulan (tanggal 1).
Meskipun pernah juga memenuhi jadwal terbit di awal bulan, menjaga konsistensi untuk tetap berada di rel jadwal itu ternyata memerlukan ketabahan luar biasa. Kami ingin berhenti di sini, karena alasan selanjutnya akan berputar-putar lagi. Satu hal jelas bagi kami, sebuah prose perjuangan kultural membangun masyarakat belajar membutuhkan waktu. Waktu juga yang menjawab: apakah kami akan terus mengecewakan pembaca, atau kami dapat memperbaiki diri.
Disertai permohonan maaf kesekian kali atas keterlambatan ini, kami ingin membagi informasi kepada pembaca. Bagi kalangan pelajar, tahun ini LIPI kembali menggelar Lomba Karya Ilmiah Remaja. Tidak tanggung-tanggung hadiahnya, dan tidak main-main proses kelanjutannya: Bagi finalis yang menghasilkan temuan baru (invensi) akan dinominasikan dalam International Exhibition for Young Inventor (IEYI) V di Taiwan pada bulan September 2008.
Bagi pelajar yang hobi menulis fiksi, Departemen Agama mengadakan Lomba Menulis Cerita Remaja Islami. Hadiahnya setengah ONH.
Bila peringatan Hardiknas di Temanggung sepi kegiatan, dan seperti biasa juga sepi hadiah, di Jakarta begitu banyak even yang bisa menawan hati guru: Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan, Lomba Kreativitas Ilmiah, Lomba Karya Tulis PAUD, dan lain-lain. Akhir April lalu guru-guru bahasa Indonesia MA, SMK, dan SMA swasta-negeri telah berancang-ancang mengikuti Lomba Menulis Cerita Pendek dan Lomba Mengulas Karya Sastra, dengan menyelenggarakan Bengkel Sastra. Semoga kita, Anda dan kami, bisa menikmati kesempatan yang menakjubkan itu.

Lectori edisi ke-21 Juni 2008
(Seingat saya, karena kesibukan para awak Lontar, terpaksalah edisi Juni digabung menjadi satu edisi dengan bulan Mei. Maaf ya!)

Lectori edisi ke-22 Juli 2008
Ruarrr biasa. Itulah perasaan kami. Bukan karena kami telah berbuat sesuatu yang menjadikan LONTAR luar biasa, melainkan keterlambatan terbit sampai satu bulan, sampai-sampai kami harus menggabungkan dua edisi (Mei dan Juni 2008) menjadi satu terbitan. Ya, luar biasa malunya. Semua awak LONTAR merasakan perasaan itu, dan dengan sesadar-sadarnya mengakui penurunan kinerja selama bulan-bulan April, Mei dan awal Juni.
Pemustaka LONTAR yang terhormat. Di tengah kegalauan karena LONTAR tidak segera terbit –dan akhirnya tidak terbit- pada bulan Mei, perubahan di luar kehendak awak LONTAR terjadi juga. Rekan kami, Satrio Yudho, yang sejak edisi pertama menjadi sekretaris LONTAR, menyatakan tidak dapat lagi membantu LONTAR. Ini disebabkan oleh kesibukan (dalam bahasa Inggris disebut business) baru yang sangat menarik di Semarang.
Tak lama berselang, rekan kami, yang turut membidani kelahiran LONTAR, juga menyampaikan permintaan maaf tidak bisa membantu sepenuhnya. Sdr. Wiyono, guru SMP Negeri 1 Pringsurat, sejak April diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah di SMP Negeri 3 Bulu.
Sebelum kedua rekan kami itu mundur, beberapa rekan yang semula menyatakan ingin bergabung menjadi reporter LONTAR juga terhambat oleh berbagai kondisi sehingga batal menjadi reporter.
Pemustaka LONTAR yang budiman. Kami memutuskan dalam rapat pengurus tanggal 23 Juni, untuk menugasi Sdr. Nurul Karimah, guru SMP Negeri 5 Temanggung menjadi sekretaris, menggantikan kedudukan Sdr. Satrio Yudho. Selain kemampuannya, sebagaimana dapat Anda baca pada artikelnya yang dimuat di Suara Merdeka, juga karena kebetulan rumahnya sering dijadikan markas LONTAR.
Bagaimanapun, perubahan komposisi seperti tersebut merupakan bagian dari dinamika perkembangan LONTAR. Bahkan kalau dirunut pada masa bayinya dulu, beberapa nama malahan mundur sebelum aktif. Inilah dinamika sebuah penerbitan yang (kebanyakan) dikelola para guru PNS. Perubahan itu niscaya akan terus terjadi. Kami hanya berharap, siapa pun yang mengelola, LONTAR tetaplah eksis menemani perjalanan spiritual para pembaca. Selamat memustaka!

Lectori edisi ke-23 Agustus 2008
Miskomunikasi. Itulah kenyataan kami ketika mengabarkan perihal mundurnya Satrio Yudho. Pembaca yang memustaka LONTAR! Pada edisi yang lalu kami memberitakan mundurnya Sekretaris Redaksi berhubung dengan kesibukan barunya di Semarang. Entah bagaimana, selang dua bulan yang bersangkutan mengklarifikasi soal itu.
Sementara rapat Redaksi telah memutuskan untuk menunjuk Sdr Nurul Karimah sebagai sekretaris, dalam rapat berikutnya kami sepakat untuk menambah “jabatan eselon II” di jajaran Redaksi Lontar. Sedianya, wakil pemimpin redaksi akan dipromosikan naik, sementara Satrio Yudho juga akan dipromosikan menjadi wakil pemred, sementara pemred Hendro Martono akan merintis “karier” baru, entah sirkulasi atau reporter.
Karena wapemred Darmadi belum sanggup memimpin Lontar, akhirnya, ya itu tadi, rapat menyepakati untuk menambah “jabatan eselen II”. Jelasnya, mulai edisi Agustus ini terdapat dua orang wakil pemimpin redaksi. Darmadi dan Satrio Yudho.
Dalam bulan Juli kemarin, rekan kita Sdr Joko Sudiyono menyatakan minat untuk bergabung menjadi reporter Lontar. Meskipun telah diberitahukan bahwa mengelola Lontar harus menyiapkan “usus yang panjang”, guru SD Negeri 2 Kranggan  ini menyatakan siap untuk selalu menelan pil pahit. Demikianlah kemudian Sdr Joko Sudiyono dinyatakan lulus uji nyali. Liputannya dapat Anda baca pada kolom berita.
Pembaca Lontar yang terhormat. Bulan Agustus, seperti telah berjalan dua tahun sebelumnya, Ikatan Kadang Temanggungan bersama Lontar kembali melaksanakan bhakti sosial. Tidak hanya kepada masyarakat umum, kami pun mengagendakan pelatihan jurnalistik ataupun penulisan karya ilmiah di kalangan guru.
Telah lama dikeluhkan, baik dari kalangan pendidik sendiri maupun dari stakeholder, keberaksaraan (kemahiran membaca dan menulis) guru di Temanggung rata-rata masih lemah. Kurangnya koleksi bacaan, yang diikuti dengan intensitas membaca yang juga kurang, serta kurangnya pelatihan di bidang penulisan, antara lain menjadi sebab lemahnya keberaksaraan itu.
Kami ingin mengulang kembali pernyataan: menulis itu hanya disokong oleh sebagian kecil bakat. Sebagian besar orang membutuhkan kerja keras agar sukses menjadi penulis. Kerja keras itu ada macam: membaca secara terus-menerus, dan menulis secara kontinyu. Menulis itu sejenis kemahiran yang bisa dilatihkan. Oleh karena itu, berapa kalipun seorang guru dilatih, kalau guru tidak mau melatih dirinya akan sia-sia.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini terdapat banyak agenda menulis yang memungkinkan kita menjadi penulis hebat. Lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelejaran, Sayembara Naskah Buku Pengayaan, Lomba Kreativitas Guru, untuk menyebut beberapa, merupakan ajang dan kesempatan berharga yang sayang kalau dilewatkan begitu saja. Latihan yang rutin dan banyaknya kesempatan lomba di bidang penulisan sungguh menjadi sinergi yang tak terkira harganya.
Khusus bagi guru yang telah lulus sertifikasi, baik melalui penilaian portofolio maupun diklat sertifikasi, kelulusannya itu akan ditagih oleh pemerintah: apakah ada peningkatan keprofesionalan –dalam hal ini produktivitas menulis- ataukah justru terlena oleh (mimpi) tunjangan profesi. Harap maklum, pemerintah akan terus memantau status keprofesionalan kita.

Lectori edisi ke-24 September 2008
Marhaban ya Ramadan!
Memasuki bulan Ramadan ini, apa yang sebaiknya kita lakukan? Mengikuti kebiasaan masyarakat, tentu saja yang kita lakukan pertama adalah ”padusan”. Ritual mandi di tempat-tempat rekreasi ataupun tempat keramat sekalipun, ini tujuannya hanya satu: membersihkan diri.
Secara biologis, proses pembersihan diri sebenarnya terus berlangsung di dalam tubuh kita. Melalui serangkaian proses kimiawi, kita, di luar sadar, memproduksi zat-zat antitoksin, sehingga, tanpa sadar pula, tubuh kita ternetralisir dari unsur racun. Konon, hati kitalah yang menawar racun itu.
Namun dalam pengertian psikologis, hati kita jugalah yang, konon, menjadi sumber racun. Orang akan menyebut ’tinggi hati’, dan ’iri hati’ sebagai penyakit yang tak mudah disembuhkan. Kebanyakan kita mudah tergoda menjadi ’tinggi hati’ manakala merasa berhasil dalam bidang tertentu. Kebanyakan, sebaliknya, kita mudah tergoda untuk ’iri hati’ jika keberhasilan itu justru diraih orang lain.
Ramadan, kata orang-orang bijak, membelajarkan orang untuk meredam penyakit hati itu.
Pembaca Lontar yang cendekia, Lontar mudah-mudahan tidak dalam posisi dua poros itu. Apa yang mau dibikin tinggi hati, meskipun di Temanggung ini Lontar menjadi media informasi pendidikan satu-satunya? Sebaliknya, apa yang membikin Lontar iri hati berhadapan dengan beragam media yang bermodal besar?
Tidak sekali-kali. Lontar, jika para pembaca menelusuri tiap-tiap kali mau terbit, tidak dapat iri hati karena Lontar mempunyai sejarahnya sendiri. Hampir dapat dikatakan, Lontar selalu dalam posisi ’zero to zero’. Lontar selalu merasakan betapa sulitnya ketika hendak terbit, lalu sesudahnya juga merasakan kesulitan lagi, ketika hendak memproses kelahiran berikutnya.
Dalam keadaan seperti itu, Lontar tentu tidak dapat berlagak tinggi hati, sekali lagi karena Lontar menjadi tempat bagi orang-orang yang ingin membelajarkan diri. Sesuai dengan moto yang diemban, sebagai forum belajar, Lontar akan terus mengasah diri, sambil mengajak pembaca mewacanakan pentingnya kemajuan pendidikan kita.
Di bulan penuh rahman ini, Lontar mengajak pembaca kiranya sekarang waktunya berbagi kasih sayang. Bukan kasih sayang pada diri sendiri, yang dalam hari-hari sebelumnya mungkin menjadi kredo kita, melainkan kasih sayang buat sesama yang belum sempat mengenyam nikmatnya belajar. Masih banyak warga belajar yang demikian itu.
Di bulan yang penuh berkah ini, Lontar berharap dapat berbagi berkah. Bukan hadiah layaknya dari Sinterklas, namun berkah pencerahan yang dapat melecut hati kita menjauh dari ketinggihatian dan keirihatian. Dunia terlalu tinggi bagi orang-orang yang mau tinggi hati dan iri hati.
Sebagai penutup, di bulan yang penuh ampunan ini pula, Lontar ingin menyampaikan permintaan maaf kepada para pembaca, atas segala kelalaian dan kesalahan, kekurangan dan keterbatasan. Sangat disadari, sampai saat ini Lontar belum dapat memuaskan harapan pembaca. Semoga Ramadan dapat mentransformasikan Lontar menjadi media yang setia membelajarkan kita.

Lectori edisi ke-25 Oktober 2008
Pembaca Lontar yang setia. Bulan Oktober 2008 kami mencatat beberapa momen penting. Pertama, tanggal 15 Oktober nanti menurut rencana Gubernur Bibit Waluyo akan mencanangkan perlunya menghidupkan kembali pendidikan nasionalisme, khususnya di Jawa Tengah. Momen ini dibarengkan dengan pembukaan pameran produk teknologi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) se-Jawa Tengah yang dipusatkan di SMK Negeri 1 Ngablak, Kabupaten Magelang.
Dalam pandangan Gubernur Jawa Tengah ini, nasionalisme di kalangan generasi muda kian pudar, seiring makin kuatnya gempuran budaya pop yang serba instan dan konsumtif. Elan perjuangan yang pernah bersemayam di dada generasi muda 08, 28, dan 45, patut ditumbuhkan kembali, justru ketika kita melihat arah kebangkitan nasional kedua makin tak keruan.
Pengorbanan (semacam asketisme diri terhadap godaan keduniawian), tampak makin menghilang di kalangan generasi kini. Begitu pula, daya juang vis a vis budaya instan, juga tampak meredup di tengah ingar-bingar serbuan budaya kapitalisme yang terus-menerus hadir di pelupuk mata.
Kedua, seperti tahun-tahun sebelumnya, Bulan Bahasa akan menjadi agenda rutin Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Kegiatan yang akan dilaksanakan dalam rangka Bulan Bahasa, antara lain perlunya setiap warga meningkatkan taraf keberaksaraan (budaya membaca dan menulis).
Ketiga, kami hampir lupa, bulan ini kami memasuki usia ketiga sejak kelahiran pertama pada Oktober 2006. Banyak yang terheran-heran, mengapa Lontar masih bisa bertahan hidup? Pertanyaan ini memang agak menyakitkan, namun sebenarnya ingin menyatakan mengapa Lontar bisa bertahan sampai edisi ke-25?
Dalam beberapa tulisan terdahulu, barangkali pembaca Lontar masih ingat prinsip yang mendasari kehadiran kami di hadapan pembaca. Sebagai media penerbitan yang terutama mengkhususkan diri pada pewacanaan berbagai isu pendidikan, kami ingin menjembatani kesenjangan informasi bidang pendidikan.
Tidak hanya pada ranah spasial (Kota Temanggung dengan Gemawang, Tretep, Bejen, Kledung, Bansari, Selopampang, Kaloran, dan sebagainya), juga tidak hanya pada ranah struktural (Dinas Pendidikan dengan persekolahan tingkat SD, SMP, dan SLTA), bahkan bila mungkin juga menjembatani kesenjangan sektoral (Dinas Pendidikan dengan dinas-dinas lain).
Terkadang begitu terasa, misalnya dalam politik anggaran di bidang pendidikan, mengapa dunia pendidikan selalu salah dipersepsikan oleh para perencana pembangunan di Temanggung? Melihat anggaran belanja Dinas Pendidikan yang “telah begitu besar”, membuat perencana pembangunan menganggap bahwa anggaran pendidikan di Temanggung dianggap cukup. Apakah memang cukup?
Kehadiran Lontar memang mungkin belum dapat memenuhi harapan semua pemangku kepentingan. Namun sebagai proses kultural yang memakan waktu, kami akan terus mencoba, dan mencoba menyediakan diri sebagai jembatan itu.
Keempat, bulan Oktober juga bulan Syawal. Setelah menjalani ibadah puasa sebulan penuh, menurut harapan kita, kita akan meraih kemenangan: kemenangan dalam melawan hawa nafsu duniawi. Tantangan dunia pendidikan di Temanggung masih dan akan tetap berat. Ini disebabkan dengan telah lengkapnya delapan standar nasional pendidikan. Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan telah dirumuskan dalam Permendiknas no. 22 dan 23 tahun 2006. Kemudian, standar proses melalui Permendiknas no. 41 tahun 2008, standar pendidik dan tenaga kependidikan seperti diatur dalam Permendiknas No. 12, 13, dan 16 tahun 2007 juga telah terbit. Begitu pula, Permendiknas no. 19 tahun 2007 tentang standar pengelolaan oleh satuan pendidikan, Permendiknas no. 20 tahun 2007 tentang standar penilaian pendidikan, serta Permendiknas no. 24 tahun 2007 dan no. 40 tahun 2008 tentang standar sarana dan prasarana SD, SMP, SMA, SMK. Yang terakhir, sebetulnya belum berakhir, Peraturan Pemerintah No. 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan, yang pasti akan segera disusul dengan Permendiknas pula tentang standar pembiayaan.
Semua standar akan menjadi tantangan menarik bagi semua insan pendidikan. Dapatkah kita mengatasi tantangan itu? Minal ’aidzin fal faizin!

Lectori edisi ke-26 November 2008
Di bulan November, ada tiga tema peringatan yang sama-sama menarik. Hari Guru Nasional, Hari Pahlawan, dan Hari Jadi Kabupaten Temanggung. Lontar edisi November 2006 telah mengangkat Hari Guru. Lantas, Lontar edisi November 2007 mengangkat kisah seorang warga kehormatan Kabupaten Temanggung, Mbah Sugeng Martowirono. Pemuatan kisah Mbah Sugeng merupakan kado Lontar untuk Kabupaten Temanggung. Gilirannya sekarang mestinya mengangkat Hari Pahlawan. Namun Lontar memilih tidak mengekspos peringatan Hari Pahlawan itu.
Di tingkat nasional, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono baru saja menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Mohamad Natsir, mantan perdana menteri; dan Bung Tomo, tokoh pejuang dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya; serta KH Abdul Hakim. Kita menyambut hangat disertai penghormatan atas penganugerahan gelar itu.
Yang perlu diangkat dalam edisi kali ini, bagi kami, justru rencana Pemerintah Kabupaten Temanggung yang akan membangun taman perpustakaan di Kowangan. Bukan sebagai monumen, tetapi momentum penting sebagai tanda memasuki babak baru peri-keadaban kita. Pengembangan perpustakaan yang disertai dengan pemasangan titik-titik akses internet itu perlu disambut karena banyak alasan.
Pertama, dalam konteks pemanfaatan perpustakaan sebagai sumber belajar, internet telah dapat mengganti fungsi-fungsi perpustakaan konvensional, dan toko buku, dengan ketersediaan laman (entri) yang hampir-hampir tanpa watas. Jutaan informasi dapat diakses tanpa harus ke Yogya atau Semarang bila hanya untuk membeli buku.
Kedua, sebagai sumber belajar, internet membantu guru-guru dan peserta didik yang kesulitan memperoleh “Buku Sekolah Elektronik”. Sejak pembelian hak cipta buku teks pelajaran yang dilakukan Depdiknas dua tahun terakhir, kelemahan memang ada pada kemudahan akses. Jadi, hadirnya hotspot di Kowangan, sedikit banyak akan mengurangi kesulitan itu, terutama di sekolah-sekolah yang belum tersambung dengan jaringan pendidikan nasional (Jardiknas).
Ketiga, dilihat dari perspektif literasi (tingkat melek-huruf), kehadiran perpustakaan digital di Temanggung niscaya turut menyumbang pengurangan jumlah penduduk buta huruf. Sekaligus, mengurangi kesenjangan antara budaya-baca dan budaya-nonton sebagai dampak serbuah televisi di ruang-ruang keluarga.
Lebih penting lagi, keempat, dengan penempatan titik-titik akses internet ini akan mempercepat penyebarluasan berbagai informasi dan kebijakan Pemerintah Kabupaten Temanggung. Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good government), transparansi segala kebijakan pemerintah benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat.
Kita optimis, dalam konteks kerangka kerja yang lebih besar, pengembangan perpustakaan digital di Temanggung akan mempercepat kemajuan masyarakat. Taruhlah misalnya: jaringan pendidikan nasional (Jardiknas) di Temanggung dapat diperluas sampai 20 wilayah kecamatan sekabupaten sehingga semua sekolah, semua guru, semua peserta didik dapat menikmati kemajuan secara sejajar.

Lectori edisi ke-27 Desember 2008
Sudah habis kata-kata kami! Ini simpulan kami. Kami tak punya lagi kata-kata untuk menyampaikan permintaan maaf kepada pelanggan Lontar, juga para penulis yang berbaik hati mengirimkan tulisan kepada Lontar. Apa pasal? Sejak Januari 2008, kami kejangkitan penyakit “terlambat  terbit”.
Meskipun tampaknya jelas sumber penyebab keterlambatan, rasa-rasanya kami belum dapat menemukan obat manjur untuk menyembuhkan penyakit itu. Kami hanya masih percaya, bahwa proses seleksi alamiah yang seiring dengan waktu berjalan akan memastikan: siapakah di antara kami yang betul-betul konsen pada satu-satunya media penerbitan di Temanggung ini.
Ternyata kami masih memerlukan waktu untuk membentuk kohesivitas tim kerja di dalam Lontar. Adakalanya, seorang reporter yang ditugasi meliput berita gagal mendapatkan momen gara-gara ada kesibukan mendadak. Pada waktu lain, jajaran redaksi yang ditugasi menurunkan “Liputan Utama” tidak dapat menjalankan tugas, baik karena alasan bisnis maupun kesibukan lain.
Kami sudah berkali-kali menyadari, kondisi awak Lontar yang sebagian berstatus pegawai negeri, sering terikat dengan jadwal dinas sehingga Lontar dinomorduakan. Akibatnya bisa diterka. Ini belum ditambah dengan kesulitan distribusi.
Selain mendistribusikan Lontar di UPTD-UPTD, beberapa sekolah sulit dijangkau dalam waktu singkat. Apalagi logistik pendukung distribusi sangat tidak memadai. Ini diperparah dengan kenyataan banyaknya setoran langganan yang tidak berjalan lancar.
Sekadar mengurangi perasaan malu, begitu edisi November 2008 selesai, kami langsung mengebut pengerjaan edisi Desember. Sekali lagi, ini sekadar mengejar tenggat agar tidak terlambat terus.
Pembaca Lontar yang setia. Tahun depan perhelatan politik terbesar lima tahunan akan memasuki babak kampanye yang lebih seru. Setiap calon anggota legislatif maupun calon presiden akan menawarkan diri, sambil mencitrakan kapasitas-kapasitas yang dimilikinya. Lebih meriah –mungkin- dari perhelatan pilkada Juni lalu.
Kemeriahannya bukan hanya menunjuk pada jumlah kontestan partai politik yang lebih banyak ketimbang pemilu legislatif 2004. Kemeriahan itu, akhir-akhir ini, lebih disebabkan oleh pemanfaatan media-luar-ruang oleh para kontestan. Tahun lalu, seorang calon kepala desa memanfaatkan Lontar untuk media kampanye, dan menang!
Dalam pertarungan pemilu legislatif dan pilpres 2009, menarik untuk dipertimbangkan, bila para calon anggota legislatif di lembaga politik lokal merasa melihat manfaat pada Lontar, mungkin sebagian dari mereka akan ingin tampil di Lontar. Begitu pun tim sukses capres yang akan maju pada putaran pilpres 2009, mungkin juga akan melirik Lontar sebagai salah satu entitas media yang dapat diperhitungkan.
Sebagai bagian dari pendidikan politik, para pembaca niscaya dapat mencermati setiap slogan, visi, dan misi para calon anggota legislatif itu. Kita akan melihat, apakah mereka dapat kita baca jejak rekamnya, lalu kita akan memutuskan: apakah mereka memadai untuk menjadi wakil kita di lembaga representasi lokal kita?


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.